<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-3690317416902240105</id><updated>2011-10-24T08:34:48.760-07:00</updated><title type='text'>Story to Glory</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://story2glory.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3690317416902240105/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://story2glory.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Yuni Ry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07545827111973806079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3690317416902240105.post-5526625762261865966</id><published>2011-10-15T04:00:00.000-07:00</published><updated>2011-10-24T08:24:27.845-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;Panas terik. Padahal baru pukul delapan pagi, tapi panasnya seperti jam dua belas siang. Bahkan mungkin lebih, benar-benar panas. &lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;Mungkin lapisan ozon sudah sangat menipis sehingga panasnya matahari langsung membakar bumi. Kata-kata &lt;i&gt;Global Warming&lt;/i&gt; sudah terdengar dimana-mana, tapi upaya menjaga bumi tidak begitu terlihat. Seakan-akan penghuni bumi ini tidak perduli dan hanya menunggu dari sebagian kecil yang berupaya menjaga bumi. Itu sama saja dengan bohong! Rumah kaca semakin banyak hanya untuk mengikuti &lt;i&gt;trend&lt;/i&gt; dan&lt;i&gt; style &lt;/i&gt;rumah yang sedang &lt;i&gt;up to date&lt;/i&gt; tanpa memikirkan penyebabnya. Keren, &lt;i&gt;modern, &lt;/i&gt;terlihat antik, unik tapi menghancurkan. Adakah orang yang memikirkan masa depan bumi? Tentu saja ada. Tapi hanya memikirkan tanpa melakukan sesuatu untuk masa depan bumi juga ada. Sekali lagi, itu sama saja dengan bohong. Hanya sedikit orang dan semoga saja dengan sedikit orang ini yang terus berupaya akan menyadarkan yang lainnya betapa pentingnya menjaga bumi ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&amp;nbsp;“Seperti inikah neraka dunia? Oh… pedihnya!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;Celutuk Ocha sambil menutupi wajahnya dari terik matahari yang menyinari dirinya. Abel menoleh kearahnya yang terus berdiri tidak tenang, wajahnya mulai berkeringat. Padahal mereka baru berdiri &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; menit mengikuti upacara senin pagi seperti biasa. Tapi panas kali ini membuat mereka seperti telah berdiri setengah jam mengikuti upacara.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; “Gila! Panas banget sih hari ini. Kapan slesenya nih upacara!” Gerutu Sara sambil menghentak-hentakkan kakinya. Abel melirik punggung Sara yang didepannya, ia bisa membayangkan wajah kusut Sara seperti apa. Abel mengintip matahari dari balik topinya, matanya menyipit, benar-benar menyilaukan. Kemudian ia melirik barisan disampingnya, ada yang sudah berjongkok dengan santai sambil menutupi diri dengan tubuh temannya yang lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&amp;nbsp;“Hei!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;Abel menoleh kebelakang, bentakan Ibu Maya membuat anak itu berdiri tegap dan kembali mengikuti upacara. Abel menghapus keringat diwajahnya dan kembali menatap kedepan mengikuti upacara. Tak hanya Ocha dan Sara temannya yang mengeluh dengan cuaca hari ini, tapi hampir semuanya mengeluh.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Upacara selesai dan semua murid langsung berhambur kekelas, mencari tempat untuk berlindung menghindari teriknya matahari. Termasuk para majelis guru. Abel menaiki tangga dengan cepat, ia melepaskan topinya dan mengipaskannya kewajahnya yang kepanasan. Ia beriringan dengan Ocha dan Lila yang sibuk membicarakan acara tahun baru bulan depan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;&amp;nbsp;“Abel, seminggu lagi tahun baru, loe udah ada acara?” Tanya Ocha sambil menaiki anak tangga yang lain menuju kelas mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Abel menggeleng cuek, ia tak ingin membahas ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Kalau gitu loe ikut gue ma anak-anak aja. Julia ngadain &lt;i&gt;barbeque &lt;/i&gt;di apertemennya, pasti seru banget. Gimana, loe mau &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Enggak.” Jawab Abel singkat&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Lho, kenapa? Anak kelas lain juga ada yang ikut kok, dijamin nggak &lt;i&gt;boring&lt;/i&gt; deh!” Ucap Ocha meyakinkan Abel.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Abel berhenti didepan kelas, ia memandang Ocha tanpa expresi. “Gue nggak mau ngerayain tahun baru.” Ucapnya dingin dan tegas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Alis Ocha bertaut tak mengerti, ia memandang Abel dengan heran. “Kenapa?” Tanyanya penasaran.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Abel mendengus kesal, seharusnya Ocha tahu tanpa menanyakan alasannya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Kenapa harus dirayain? Buang-buang waktu.” Ucap Abel dingin&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Lho kok buang-buang waktu sih, ya kita ngerayainnya untuk ucapin met tinggal ma tahun yang lama dan menyambut tahun baru.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Nggak ngucapin met tinggal juga bakal ninggalin kita kan, nggak disambut pun juga bakalan datang. Kenapa harus repot-repot sih, jalanin aja apa adanya.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Ocha menghela nafas panjang. Kini ia membalas menatap Abel dengan dingin.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“&lt;st1:place w:st="on"&gt;Susah&lt;/st1:place&gt; ya ngomong sama loe, bikin naik darah!” Ucap Ocha menahan emosi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Seharusnya loe tahu itu sebelum loe ngomong.” Ucap Abel cuek lalu berbalik masuk kekelas meninggalkan Ocha yang menahan emosi terhadap Abel.&lt;/div&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;span style="line-height: 24px; text-align: justify; text-indent: 48px;"&gt;Abel membuka buku pelajarannya, membolak-baliknya tanpa benar-benar melihatnya. Ia menatap buku didepannya tapi pikirannya tidak berada disana. Jauh menerawang entah kemana, bahkan ia sendiri tidak tahu apa yang ia pikiran. Dirinya? Hidupnya? Atau masa depannya? Abel tersenyum kecut, ia teringat jalan hidupnya selama ini, selama ia bisa dan pasti akan terus teringat olehnya.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: 'Times New Roman', serif; font-size: 12pt;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: .5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Nih, manusia aneh!” Celetuk Reno sembari duduk didepan Abel. Abel meliriknya dingin, ia tahu barusan kata-kata itu ditujukan untuknya. Tapi ia hanya diam tidak menanggapi dan kembali menatap bukunya. Kali ini ia benar-benar membacanya tanpa tahu kalimat apa yang ia baca.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; adalah salah satu teman sekelas Abel yang tingkahnya bawel seperti perempuan. Tapi paling tidak suka dikatakan banci atau sejenisnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Uy!” &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; mencolek bahu Abel. Abel menghela nafas. Ia menutup bukunya dan menatap &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; apa?” Tanyanya dingin&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tersenyum puas, “Nah gitu dong, ada respon!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; perlu apa?” Tanya Abel lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Sensi amat sih Bel! Loe itu semuanya dibawa serius, cepat tua ntar! Untung aja loe cantik jadi bisa gue ngertiin.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Dahi Abel mengerut melirik &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, “Loe itu mau apa sih?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tersenyum simpul. Lalu ia mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Abel, Abel hanya diam melihatnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Ini, baca!” Pinta &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; padanya&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Abel benar-benar menatap Reno sekarang, “Mau loe apa?” Tanyanya sedikit ketus.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Senyum Reno langsung hilang melihat sikap Abel, ia langsung mengambil kertas itu dan membuka lipatannya didepan Abel.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Ajang pemilihan model!” Ucapnya semangat, berusaha tidak menanggapi reaksi Abel yang dingin. Abel masih diam tanpa reaksi. “Ini acara untuk nyambut tahun baru Bel, nah gue mau ajakin loe. Pendaftarannya masih empat hari lagi. Loe mau &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;? Soal biaya loe tenang aja, gue yang bayarin! Gue yakin loe bisa menang Bel, fisik loe &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; dukung banget, perlu latihan dikit aja pasti beres deh. Gimana?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Gue nggak mau ikutan. Loe ajak aja yang lain.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Tapi gue maunya loe yang ikut!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Gue bilang nggak mau! Ngerti nggak sih bahasa manusia!?” Ucap Abel kasar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; terdiam mendengar ucapan Abel yang kasar, ia menatap kesal sambil menahan amarahnya. Sebenarnya Ia tahu Abel terkenal sebagai cewek aneh disekolah ini, siapaun akan menerima perlakuan seperti ini jika selalu mendekatinya. Tapi selama tiga bulan ini ia masuk sebagai anak baru, ia memang selalu sendiri tanpa teman.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Parah loe!” Ucap Reno sambil berlalu meninggalkan Abel.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Abel hanya diam, ia menyadari teman yang lain memperhatikan ia dan Reno. Tapi entah kenapa ia tidak peduli dengan semua tanggapan negative dari semua temannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center; text-indent: .5in;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Bel, loe jalan? Rumah loe &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt; jauh, ikut gue aja. Gue arah kerumah loe kok.”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Abel melirik dingin kearah suara yang tidak ia kenal itu. Dahinya mengerut, ia tidak mengenali perempuan didalam mobil itu dan ia pun kembali berjalan tanpa berbicara apa-apa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Gue Diana, anak kelas E.” Ucap Perempuan bernama Diana itu pada Abel. Abel tetap berjalan tanpa menghiraukannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Gue juga baru masuk seminggu yang lalu, loe anak tante Lisa &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:state w:st="on"&gt;kan&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Abel berhenti, menatapanya. Tapi ia tetap diam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Loe lupa sama gue?” Tanya Diana seolah mereka pernah bertemu sebelumnya. Abel tetap diam, tapi otaknya berfikir menjawab pertanyaan Diana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Teman kecil loe, waktu di sanggar tari pas kita TK sampe SD.” Diana mengingatkannya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Raut wajah Abel melunak, ia megingatnya. Teman kecilnya yang waktu dulu sangat dekat sekali.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Ayo naik!” Ajak Diana sambil membukakan pintu untuk Abel, tanpa berkata apa-apa Abel mengikuti ucapan Diana.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Dalam perjalan Abel hanya diam, Diana merasa aneh dengan perubahan teman kecil yang dulu ia kenal periang dan suka bercerita ini tiba-tiba jadi diam, sangat diam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Loe berubah ya, Bel?” Ucap Diana pelan, Abel memlirik Diana, seperti biasa selalu dingin. “Lebih cantik.” Lanjut Diana lagi. Ia tak ingin membahas yang ia rasakan saat ini tentang Abel.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Oh ya, gue minta nomor hape loe ya. Nih loe &lt;i&gt;save&lt;/i&gt; di hape gue.” Diana memberikan ponselnya pada Abel, karena ia tidak yakin Abel ingin menyebutkan nomornya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;“Makasih ya.” Ucap Abel setelah turun dari mobil Diana dan berlalu begitu saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Diana yang merasa senang Abel bersuara langsung berteriak, “Nanti gue telpon ya!”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Diana memutuskan untuk SMS saja, karena telah tiga kali ditelepon, Abel tidak mengangkatnya. Ia benar-benar jadi ingin tahu ada apa dengan teman kecilnya itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;Setelah &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; belas menit berlalu, ia baru mendapatkan balasan singkat dari Abel. Hanya dua kata dan itu seperti menyudahi percakapan kalau ia tak ingin diganggu. ‘mau tidur’. Itu balasannya.&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center; text-indent: .5in;"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Abel berjalan santai menuju kelas, hari ini ia datang satu jam lebih awal dari jam masuk. Sekolah masih sepi, mungkin baru hanya dia yang datang. Abel yang biasa berjalan menunduk, kini mengangkat kepalanya melihat-lihat sekitar kelas yang ia lewati. Terlalu banyak yang ia tidak tahu semenjak masuk sekolah ini. Letak perpustakaan yang dilantai satu, yang ia kira tak pernah ada disekolah ini. Ia juga melihat ada bekas taman kecil dibelakang kelas yang tak terurus. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Loe datang pagi juga, Bel?” Sapa Reno yang tak jauh didepannya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Abel sempat kaget dengan suara &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, ia pikir hanya ia yang baru datang. Dengan cepat ia kembali menunduk dan berjalan meninggalkan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang dengan senyum yang masih mengambang dibibirnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Eh, Bel!” Teriak Reno mengejar Abel yang telah berjalan jauh didepannya menuju kelas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Gue udah daftarin loe kemarin.” Teriaknya lagi. Abel tetap diam terus berjalan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Reno&lt;/span&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt; ngos-ngosan mengejar Abel sampai kelantai tiga, “Nggak capek apa loe? Cepat banget sih nyampe kelas, ada ilmu sihir ya loe?!”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Acaranya diundur dua minggu lagi, ada siapa gitu yang punya acara kena musibah, meninggal. Acaranya nggak mungkin batal karena udah banyak peserta yang daftar, jadi di undur dua minggu lagi. Berarti loe punya banyak waktu untuk latihan” Ucap &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; pada Abel&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Abel tetap diam, ia menganggap &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tidak berbicara dengannya. Ia meletakkan tasnya, dan pergi dari hadapan &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang terus saja menunggu jawaban Abel. Melihat Abel pergi lagi, &lt;st1:place w:st="on"&gt;&lt;st1:city w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; hanya terduduk menghela nafas. Ia tak ingin mengejarnya lagi, karena sudah cukup capek untuk mengejar Abel sampai kelas yang di lantai tiga.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Abel!” Teriak Diana sambil berlari kecil mengejar Abel yang sudah berjalan menuju gerbang sekolah. Abel hanya diam dan berbalik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Dari tadi pagi gue cariin loe, eh malah udah pulang gini ketemunya.” Abel masih diam, “Pulang bareng yuk!” Ajak Diana kemudian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Abel menggeleng, “Nggak.” Ucapnya cuek. Lalu kembali berjalan meninggalkan Diana.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Abel!” Teriak Diana. Ia kembali mengejar Abel. “Loe tu kenapa sih? Berubah banget! Gue tahu dulu loe nggak kayak gini, sekarang kenapa loe kayak mayat hidup? Bisik Diana Tegas.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Abel melirik sinis Diana, “Dulu mungkin loe emang tahu gue, tapi sekarang loe nggak tahu walaupun loe kenal gue?” Balas Abel dingin dan cukup untuk didengar banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Diana melirik disekitarnya, suara Abel membuat yang lain memperhatikan mereka. Diana menghela nafas, padahal tadi dia ingin berteriak juga tapi karena nggak mau membuat Abel marah dan malu terpaksa ia berbisik. Tapi ini malah Abel yang membuatnya malu dengan suara yang lantang seperti itu. Ia hanya bisa terdiam, teman kecil yang dulu sangat akrab sekarang berubah seperti tidak mengenalnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Akhirnya Diana pergi meninggalkannya tanpa berkata apa-apa lagi. Kata-kata Abel tadi cukup menyakitkan untuknya. Tapi didalm hati Diana tidak akan menyerah untuk mencari tahu perubahan Abel.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Pagi ini terlihat heboh. Sepanjang Abel berjalan menuju kekelas hampir semua murid kasak-kusuk entah sedang membicarakan apa. Sesampainya dikelas ia melihat hal yang serupa, banyak anak perempuan yang menangis tersedu-sedu. Abel merasa aneh, tapi ia hanya diam dan duduk ditempatnya. Ia membuka buku Biologinya, karena jam pertama ada ulangan Biologi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Ocha!” Teriak Tika sambil menahan tangisnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Abel melirik Tika yang tak jauh disampingnya, ia juga melirik disebelah Tika, bukan Ocha yang teman sebangkunya melainkan Sara yang tampak berusaha menenangkan Tika dari tangisnya. Abel kembali mengarahkan pandangannya keseluruh kelas mencari Ocha, ia bingung kenapa Tika menangis menyebut nama Ocha. Saat pertama masuk sebagai murid baru, Abel memang pernah melihat Ocha dan Tika bertengkar sampai membuat Tika menangis. Itu sudah dua kali terjadi. Tapi ia heran, separah apa pertengkaran mereka hampir satu kelas dibuat menangis. Abel tidak melihat Ocha dan ia pun kembali membaca buku pelajarannya. Ia tak ingin ambil pusing dengan masalah mereka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Bel,” Panggil Lila pelan yang sudah duduk disebelahnya. Abel hanya diam, ia tetap menatap buku didepannya. Ia merasa aneh, tumben Lila datang menghampirinya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Bel, ngapain loe baca-baca Biologi, kita tuh nggak akan ulangan!” Ucap Reno yang sudah berdiri didepannya sambil menahan isakan tangisnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Abel melirik &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; risih, lalu ia menutup bukunya dan menatap Lila. Sepertinya ia memang harus tahu sesuatu. Suasana sekolah, kelas dan ucapan &lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Reno&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; membuatnya bingung.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; “&lt;st1:city w:st="on"&gt;&lt;st1:place w:st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; apa?” Tanya Abel pelan pada Lila.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;“Ocha meninggal, Bel.” Ucap Lila serak menahan sedihnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;i&gt;Bersambung &lt;/i&gt;:p&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3690317416902240105-5526625762261865966?l=story2glory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://story2glory.blogspot.com/feeds/5526625762261865966/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://story2glory.blogspot.com/2011/10/panas-terik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3690317416902240105/posts/default/5526625762261865966'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3690317416902240105/posts/default/5526625762261865966'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://story2glory.blogspot.com/2011/10/panas-terik.html' title=''/><author><name>Yuni Ry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07545827111973806079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-3690317416902240105.post-4569224530792726827</id><published>2011-10-02T08:58:00.001-07:00</published><updated>2011-10-24T08:34:48.813-07:00</updated><title type='text'>Ku Menuggu</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Putri!"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Itu suara yang Ia kenal, dengan perasaan senang dan menahan gejolak di hati, ia berbalik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;Huufft... Sejelek dan seaneh apapun, kalau sudah suka tetap saja terlihat sempurna sekali, selama itu diterima secara logika. Itu menurut Putri dan sebagian orang saja, tapi belum tentu dengan sebagiannya lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-left: 36.0pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Ada apa, Tra?" Tanya Putri sedatar mungkin, mencoba untuk biasa saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Beli perlengkapannya besok sore aja sepulang sekolah, gak pa-pa kan? Aku ada acara dadakan hari ini."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Putri tersenyum manis (bukan di buat-buat lho) "Ya udah, gampang kok! Besok bisa." Jawab Bendahara kelas itu seperti biasa (tetap berusaha menjadi dirinya sendiri walaupun didepan orang yang sedang Ia sukai ini). &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Gak ada masalahkan?" Tanya Putra, yang menjabat sebagai ketua kelasnya melangkah mendekati Putri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;Putri tersentak, dan ketika Putri akan menjawab Ia melihat seseorang berjalan kearah mereka, yang membuat Ia mundur selangkah sambil tertawa garing dan tentu membuat jawabannya beda dengan yang diniatkan sebelumnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Nggak masalah ketua kelas!" Ucapnya terseyum kecut.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Haii,," Suara lembut itu menyapa diantara mereka, yang jelas ditujukan untuk Putra. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Itu Gita, pacarnya Putra yang cantik. Ia melirik Putri sedikit sinis untuk sedetik dan kembali menatap Pacarnya dengan manja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Jadikan, hon?" Tanyanya lembut. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Jadi."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Merekapun berlenggang pergi, dengan Putra yang merangkul mesra Gita. Putri hanya terdiam melihat mereka pergi, tanpa pamit, tanpa apa-apa (yang biasa disebut basa-basi) sama sekali tak dianggap. Seperti tidak ada. Sayup-sayup Ia mendengar suara Gita yang menanyakan dirinya. Siapa dia? Kenapa sok cantik begitu? Dan mereka tertawa. Apa yang dijawab Putra sehingga mereka tertawa begitu, nggak ada yang lucu dengan dirinya. Lagian siapa yang sok cantik sih?! Huhh!&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Dear Botgun. Tadi ngobrol lagi sama Putra, ngomongin&amp;nbsp; soal perlengkapan untuk kelas sih. Soalnya kan bentar lagi ulang tahun sekolah, jadi ada lomba hias kelas terindah gitu Botgun, biasalah acara setiap tahun dan moga aja menang. Doain ya! (^.^) &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Oh iya, sebenarnya aku tuh mau ceritain tentang Putra, bukan kelas. Kayaknya dia ma pacarnya ngetawain aku deh, ah nyeblin banget sih! Aku kan suka sama dia, diketawain gitu ngerasa harga diri aku jatuh-"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Nulis diary kok bersuara sih, kayak anak SD belajar baca."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Itu Tami si sekretaris kelas yang kebetulan tetangga sebelah. Ia sudah berdiri didepan pintu kamar Putri lengkap dengan piyama dibadannya. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Tidur sini ya?" Tanya Putri tidak menanggapi ucapannya tadi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Tami mengagguk sambil berjalan kearah Putri, dan pura-pura mengintip buku diarynya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Ah, nanti aku tidur juga kamu baca." Ucap Putri sambil menutup bukunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Belum aku baca juga udah tahu kok, kamu kan nulisnya berkicau. Apalagi ni botak gundul, ih aneh-aneh aja sih kamu buku diary kok dipanggil botgun cuma karena gambar covernya orang botak."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Gak pa-pa dong, namanya juga kreatifitas." Jawab Putri ngasal&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Kreatifitas apaan?!" Tanya Tami tidak terima jawaban Putri yang menurutnya kurang berbobot dan meyakinkan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Kreatifitas kasih nama lah,"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Ih, ngaco kamu! Kreatifitas darimananya? Itu sih namanya buntu, kehabisan ide."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Terserah deh." Ucap Putri pasrah menyudahi perdebatan tentang si Botgunnya itu.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Kenapa nggak bilang suka aja?" Tanya Tami heran, ia mengambil posisi siap tidur disamping Putri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Putri menghela nafas sambil melihat kearah pintu kamarnya yang masih terbuka "Ih, tutup pintu kamar dulu baru tidur, tanggung jawab dong! Kan kamu yang buka tadi." Protes Putri yang tidak terima melihat Tami siap pergi ke alam mimpi dengan pintu kamar yang masih terbuka.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; "Ah, aku udah PW nih. Kamu kan belum ketoilet, sekalian aja napa sih." Kata Tami yang tahu kebiasaan Putri ketoilet sebelum tidur untuk menyirami anggrek dari neneknya. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan malam sebelum tidur. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;Dengan kesal Putri pun turun dari ranjangnya menutup pintu kamar, lalu berjalan ketoilet sambil bergumam kesal pada Tami. Tami yang mendengar hanya tersenyum geli.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="center" class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify; text-indent: 36.0pt;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;"Tam, kadang aku ngerasa kalau aku nih jodoh sama Putra." Bisik Putri ditelinga Tami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Dahi Tami mengerut dan melirik Putri aneh, "Kamu tahu darimana?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;"Nama kita aja cocok, serasi gitu. Terus dari kelas satu sampe sekarang aku selalu sekelas dan jabatan aku sama dia gak pernah diganti, dia selalu kepilih jadi ketua kelas dan aku bendaharanya. Iya kan? Ketua kelas sama bendahara, pasangan banget." Kata Putri masih berbisik.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;"Eh, dimana-mana pasangan ketua kelas ya wakil ketua kelas, sejak kapan dengan bendahara? Jauh tahu, sekretaris aja belum termasuk."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Jangan bawa-bawa jabatan kamu dong!" Protes Putri.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;div style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; "Siapa yang bawa-bawa jabatan, Setahuku emang begitu susunannya." Jawab Tami sambil melirik kebelakang Putri, "Kamu kayak gitu nggak kemarin?" Tanya Tami yang melihat Putra berjalan mesra dengan pacarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Putri berbalik mengikuti arah pandangan Tami. Tidak terlihat seperti mengubar kemesraan, tapi tetap saja terlihat mesra. Putri tak ingin rasa cemburunya menjadi-jadi, dengan cepat Putri kembali menatap Tami, tidak benar-benar menatapnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; "Hei! Ngelamun, cemburu..." Goda Tami sambil mengipas-ngipaskan tangannya didepan wajah Putri.&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Putri menatap Tami sesaat, lalu mencibir dan pergi berlalu dari hadapan Tami.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;***&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="line-height: 24px;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Mau sampai kapan sih kamu nunggu dia?! Kamu bilang aja kalau suka ma dia atau nggak tunjukin ke dia kalau rasa suka kamu. Jangan jadi perawan tua dong sai, aku nggak tega." Kata Tami serius.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&lt;/span&gt;Mereka sudah memasuki akhir tahun pelajaran dan seminggu lagi hasil kelulusan di umumkan, tapi kisah cinta Putri hanya begitu-begitu saja, tidak ada perubahan. Putri sudah mendaftar kuliah di &lt;i&gt;Canberra University&lt;/i&gt;, Australia. Itu memang sudah keinginannya sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Aku rasa aku udah nunjukin kalau aku suka selama ini. Aku ikutin maunya dia, aku perhatian sama dia, aku selalu ngejaga hubungan baik dengan dia dan hubungan dia dengan pacarnya. Aku akan tetap nunggu aja, Tam."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;"Dari dulu selalu bilangnya nunggu, saking nunggunya dia udah dua kali pacaran dan itu bukan sama kamu. Kalau kamu udah tunjukin berarti dia tahu, pasti ada perubahan. Setidaknya dia juga perhatian kalau dia suka kamu dan menajauh kalau emang enggak. Rata-rata kan begitu, tapi ini enggak, gini-gini aja. Apa kamu nggak kecewa kalau ternyata dia suka kamu, gimana coba?" Tanya Tami serius.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;"Kalau dia memang suka, pasti dia bilang sama aku. Aku nggak mau maksain Tam, aku yakin suatu saat hari itu pasti datang, jadi aku tetap nunggu."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Ampun deh! Jaman sekarang dah berubah, perempuan udah bisa seperti laki-laki. Kenapa kamu nggak bilang aja sih, Put!?"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Aku? Nggak ah! Aku nggak mau ikutin jaman, Aku mau tetap jadi perempuan jaman dulu, yang lemah lembut, sesuai kodrat untuk perempuan lah pokoknya."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Nyerah deh!" Ucap Tami pasrah&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Ya udah lah, temanin aku nge-&lt;i&gt;pac&lt;/i&gt;k yuk! lusa aku berangkat."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Tami terbelalak kaget, nggak percaya kenapa seperti mendadak begini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Pengumumannya kan masih seminggu lagi, Put."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; "Aku kan mesti tahu daerah sana dulu, seperti asrama Aku, universitasnya, mall, tempat yang menarik, para lelaki disana-"&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Ah ngaco lu!" Potong Tami kesal.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; Putri tertawa, "Ya, Aku mesti urus segala sesuatu disana yang pasti berurusan dengan sekolah Aku dong."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Ya kenapa mesti besok, cepat banget."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Siapa bilang, Aku udah berencana lama kok." Sela Putri&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; "Bukan itu maksudnya," Ucap Tami pelan. "Ya udah, kekantin aja yuk, sekalian perpisahan ma kantin sekolah." Ucap Tami kemudian, Ia melihat Putra yang sudah duluan masuk dan sengaja tidak memberi tahu Putri.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Begitu mereka duduk, Tami langsung memesan minuman dengan suara yang sengaja pula Ia besarkan agar orang lain mendengar, terutama Ia juga berharap Putra mendengarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;"Uni, jus jeruknya dua ya! Buat perpisahan dengan Putri, dia mau lanjut sekolah jauuuhh banget di Australia sana."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Iya Putri?" Tanya Uni kantin dengan logat daerahnya. Putri mengangguk seraya tersenyum tipis menanggapinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Iya Putri?" Tanya Uni kantin dengan logat daerahnya. Putri mengangguk seraya tersenyum tipis menanggapinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;"Putri nggak kesini lagi dong?" Tanya Uni kantin polos.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Besok udah berangkat lho uni." Potong Tami nggak sabar, Ia sudah memastikan Putra mendengarkan percakapan mereka. Putri emang nggak sadar, karena Putra berada di beberapa meja kosong dibelakangnya. Ia ingin Putra tahu kalau selama ini Putri menyukainya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; "Yah, lama lagi ketemu Putri tu? tunggu libur panjang ya?" Tanya Uni kantin sambil menyiapkan jus pesanan mereka.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp; &amp;nbsp;"Mungkin malah nggak balik uni!" Celutuk Tami.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Putri memandang Tami heran, setiap mulutnya ingin bergerak menjawab, selalu dipotong olehnya.&amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/3690317416902240105-4569224530792726827?l=story2glory.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://story2glory.blogspot.com/feeds/4569224530792726827/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://story2glory.blogspot.com/2011/10/ku-menuggu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3690317416902240105/posts/default/4569224530792726827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/3690317416902240105/posts/default/4569224530792726827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://story2glory.blogspot.com/2011/10/ku-menuggu.html' title='Ku Menuggu'/><author><name>Yuni Ry</name><uri>http://www.blogger.com/profile/07545827111973806079</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
