Sabtu, 15 Oktober 2011

Panas terik. Padahal baru pukul delapan pagi, tapi panasnya seperti jam dua belas siang. Bahkan mungkin lebih, benar-benar panas.
Mungkin lapisan ozon sudah sangat menipis sehingga panasnya matahari langsung membakar bumi. Kata-kata Global Warming sudah terdengar dimana-mana, tapi upaya menjaga bumi tidak begitu terlihat. Seakan-akan penghuni bumi ini tidak perduli dan hanya menunggu dari sebagian kecil yang berupaya menjaga bumi. Itu sama saja dengan bohong! Rumah kaca semakin banyak hanya untuk mengikuti trend dan style rumah yang sedang up to date tanpa memikirkan penyebabnya. Keren, modern, terlihat antik, unik tapi menghancurkan. Adakah orang yang memikirkan masa depan bumi? Tentu saja ada. Tapi hanya memikirkan tanpa melakukan sesuatu untuk masa depan bumi juga ada. Sekali lagi, itu sama saja dengan bohong. Hanya sedikit orang dan semoga saja dengan sedikit orang ini yang terus berupaya akan menyadarkan yang lainnya betapa pentingnya menjaga bumi ini.
 “Seperti inikah neraka dunia? Oh… pedihnya!”
         Celutuk Ocha sambil menutupi wajahnya dari terik matahari yang menyinari dirinya. Abel menoleh kearahnya yang terus berdiri tidak tenang, wajahnya mulai berkeringat. Padahal mereka baru berdiri lima menit mengikuti upacara senin pagi seperti biasa. Tapi panas kali ini membuat mereka seperti telah berdiri setengah jam mengikuti upacara.
        “Gila! Panas banget sih hari ini. Kapan slesenya nih upacara!” Gerutu Sara sambil menghentak-hentakkan kakinya. Abel melirik punggung Sara yang didepannya, ia bisa membayangkan wajah kusut Sara seperti apa. Abel mengintip matahari dari balik topinya, matanya menyipit, benar-benar menyilaukan. Kemudian ia melirik barisan disampingnya, ada yang sudah berjongkok dengan santai sambil menutupi diri dengan tubuh temannya yang lain.
 “Hei!”
Abel menoleh kebelakang, bentakan Ibu Maya membuat anak itu berdiri tegap dan kembali mengikuti upacara. Abel menghapus keringat diwajahnya dan kembali menatap kedepan mengikuti upacara. Tak hanya Ocha dan Sara temannya yang mengeluh dengan cuaca hari ini, tapi hampir semuanya mengeluh.
Upacara selesai dan semua murid langsung berhambur kekelas, mencari tempat untuk berlindung menghindari teriknya matahari. Termasuk para majelis guru. Abel menaiki tangga dengan cepat, ia melepaskan topinya dan mengipaskannya kewajahnya yang kepanasan. Ia beriringan dengan Ocha dan Lila yang sibuk membicarakan acara tahun baru bulan depan.
 “Abel, seminggu lagi tahun baru, loe udah ada acara?” Tanya Ocha sambil menaiki anak tangga yang lain menuju kelas mereka.
Abel menggeleng cuek, ia tak ingin membahas ini.
“Kalau gitu loe ikut gue ma anak-anak aja. Julia ngadain barbeque di apertemennya, pasti seru banget. Gimana, loe mau kan?”
“Enggak.” Jawab Abel singkat
“Lho, kenapa? Anak kelas lain juga ada yang ikut kok, dijamin nggak boring deh!” Ucap Ocha meyakinkan Abel.
Abel berhenti didepan kelas, ia memandang Ocha tanpa expresi. “Gue nggak mau ngerayain tahun baru.” Ucapnya dingin dan tegas.
Alis Ocha bertaut tak mengerti, ia memandang Abel dengan heran. “Kenapa?” Tanyanya penasaran.
Abel mendengus kesal, seharusnya Ocha tahu tanpa menanyakan alasannya lagi.
“Kenapa harus dirayain? Buang-buang waktu.” Ucap Abel dingin
“Lho kok buang-buang waktu sih, ya kita ngerayainnya untuk ucapin met tinggal ma tahun yang lama dan menyambut tahun baru.”
“Nggak ngucapin met tinggal juga bakal ninggalin kita kan, nggak disambut pun juga bakalan datang. Kenapa harus repot-repot sih, jalanin aja apa adanya.”
Ocha menghela nafas panjang. Kini ia membalas menatap Abel dengan dingin.
Susah ya ngomong sama loe, bikin naik darah!” Ucap Ocha menahan emosi.
“Seharusnya loe tahu itu sebelum loe ngomong.” Ucap Abel cuek lalu berbalik masuk kekelas meninggalkan Ocha yang menahan emosi terhadap Abel.
           Abel membuka buku pelajarannya, membolak-baliknya tanpa benar-benar melihatnya. Ia menatap buku didepannya tapi pikirannya tidak berada disana. Jauh menerawang entah kemana, bahkan ia sendiri tidak tahu apa yang ia pikiran. Dirinya? Hidupnya? Atau masa depannya? Abel tersenyum kecut, ia teringat jalan hidupnya selama ini, selama ia bisa dan pasti akan terus teringat olehnya.  
“Nih, manusia aneh!” Celetuk Reno sembari duduk didepan Abel. Abel meliriknya dingin, ia tahu barusan kata-kata itu ditujukan untuknya. Tapi ia hanya diam tidak menanggapi dan kembali menatap bukunya. Kali ini ia benar-benar membacanya tanpa tahu kalimat apa yang ia baca.
Reno adalah salah satu teman sekelas Abel yang tingkahnya bawel seperti perempuan. Tapi paling tidak suka dikatakan banci atau sejenisnya.
“Uy!” Reno mencolek bahu Abel. Abel menghela nafas. Ia menutup bukunya dan menatap Reno.
Ada apa?” Tanyanya dingin
Reno tersenyum puas, “Nah gitu dong, ada respon!”
Ada perlu apa?” Tanya Abel lagi.
“Sensi amat sih Bel! Loe itu semuanya dibawa serius, cepat tua ntar! Untung aja loe cantik jadi bisa gue ngertiin.”
Dahi Abel mengerut melirik Reno, “Loe itu mau apa sih?”
Reno tersenyum simpul. Lalu ia mengeluarkan secarik kertas dan memberikannya pada Abel, Abel hanya diam melihatnya.
“Ini, baca!” Pinta Reno padanya
Abel benar-benar menatap Reno sekarang, “Mau loe apa?” Tanyanya sedikit ketus.
Senyum Reno langsung hilang melihat sikap Abel, ia langsung mengambil kertas itu dan membuka lipatannya didepan Abel.
“Ajang pemilihan model!” Ucapnya semangat, berusaha tidak menanggapi reaksi Abel yang dingin. Abel masih diam tanpa reaksi. “Ini acara untuk nyambut tahun baru Bel, nah gue mau ajakin loe. Pendaftarannya masih empat hari lagi. Loe mau kan? Soal biaya loe tenang aja, gue yang bayarin! Gue yakin loe bisa menang Bel, fisik loe kan dukung banget, perlu latihan dikit aja pasti beres deh. Gimana?”
“Gue nggak mau ikutan. Loe ajak aja yang lain.”
“Tapi gue maunya loe yang ikut!”
“Gue bilang nggak mau! Ngerti nggak sih bahasa manusia!?” Ucap Abel kasar.
Reno terdiam mendengar ucapan Abel yang kasar, ia menatap kesal sambil menahan amarahnya. Sebenarnya Ia tahu Abel terkenal sebagai cewek aneh disekolah ini, siapaun akan menerima perlakuan seperti ini jika selalu mendekatinya. Tapi selama tiga bulan ini ia masuk sebagai anak baru, ia memang selalu sendiri tanpa teman.
“Parah loe!” Ucap Reno sambil berlalu meninggalkan Abel.
Abel hanya diam, ia menyadari teman yang lain memperhatikan ia dan Reno. Tapi entah kenapa ia tidak peduli dengan semua tanggapan negative dari semua temannya.
***

“Bel, loe jalan? Rumah loe kan jauh, ikut gue aja. Gue arah kerumah loe kok.”
Abel melirik dingin kearah suara yang tidak ia kenal itu. Dahinya mengerut, ia tidak mengenali perempuan didalam mobil itu dan ia pun kembali berjalan tanpa berbicara apa-apa.
“Gue Diana, anak kelas E.” Ucap Perempuan bernama Diana itu pada Abel. Abel tetap berjalan tanpa menghiraukannya.
“Gue juga baru masuk seminggu yang lalu, loe anak tante Lisa kan?”
Abel berhenti, menatapanya. Tapi ia tetap diam.
“Loe lupa sama gue?” Tanya Diana seolah mereka pernah bertemu sebelumnya. Abel tetap diam, tapi otaknya berfikir menjawab pertanyaan Diana.
“Teman kecil loe, waktu di sanggar tari pas kita TK sampe SD.” Diana mengingatkannya lagi.
Raut wajah Abel melunak, ia megingatnya. Teman kecilnya yang waktu dulu sangat dekat sekali.
“Ayo naik!” Ajak Diana sambil membukakan pintu untuk Abel, tanpa berkata apa-apa Abel mengikuti ucapan Diana.
Dalam perjalan Abel hanya diam, Diana merasa aneh dengan perubahan teman kecil yang dulu ia kenal periang dan suka bercerita ini tiba-tiba jadi diam, sangat diam.
“Loe berubah ya, Bel?” Ucap Diana pelan, Abel memlirik Diana, seperti biasa selalu dingin. “Lebih cantik.” Lanjut Diana lagi. Ia tak ingin membahas yang ia rasakan saat ini tentang Abel.
“Oh ya, gue minta nomor hape loe ya. Nih loe save di hape gue.” Diana memberikan ponselnya pada Abel, karena ia tidak yakin Abel ingin menyebutkan nomornya.
“Makasih ya.” Ucap Abel setelah turun dari mobil Diana dan berlalu begitu saja.
Diana yang merasa senang Abel bersuara langsung berteriak, “Nanti gue telpon ya!”
Diana memutuskan untuk SMS saja, karena telah tiga kali ditelepon, Abel tidak mengangkatnya. Ia benar-benar jadi ingin tahu ada apa dengan teman kecilnya itu.
Setelah lima belas menit berlalu, ia baru mendapatkan balasan singkat dari Abel. Hanya dua kata dan itu seperti menyudahi percakapan kalau ia tak ingin diganggu. ‘mau tidur’. Itu balasannya.
***



Abel berjalan santai menuju kelas, hari ini ia datang satu jam lebih awal dari jam masuk. Sekolah masih sepi, mungkin baru hanya dia yang datang. Abel yang biasa berjalan menunduk, kini mengangkat kepalanya melihat-lihat sekitar kelas yang ia lewati. Terlalu banyak yang ia tidak tahu semenjak masuk sekolah ini. Letak perpustakaan yang dilantai satu, yang ia kira tak pernah ada disekolah ini. Ia juga melihat ada bekas taman kecil dibelakang kelas yang tak terurus.
“Loe datang pagi juga, Bel?” Sapa Reno yang tak jauh didepannya.
Abel sempat kaget dengan suara Reno, ia pikir hanya ia yang baru datang. Dengan cepat ia kembali menunduk dan berjalan meninggalkan Reno yang dengan senyum yang masih mengambang dibibirnya.
“Eh, Bel!” Teriak Reno mengejar Abel yang telah berjalan jauh didepannya menuju kelas.
“Gue udah daftarin loe kemarin.” Teriaknya lagi. Abel tetap diam terus berjalan.
Reno ngos-ngosan mengejar Abel sampai kelantai tiga, “Nggak capek apa loe? Cepat banget sih nyampe kelas, ada ilmu sihir ya loe?!”
“Acaranya diundur dua minggu lagi, ada siapa gitu yang punya acara kena musibah, meninggal. Acaranya nggak mungkin batal karena udah banyak peserta yang daftar, jadi di undur dua minggu lagi. Berarti loe punya banyak waktu untuk latihan” Ucap Reno pada Abel
Abel tetap diam, ia menganggap Reno tidak berbicara dengannya. Ia meletakkan tasnya, dan pergi dari hadapan Reno yang terus saja menunggu jawaban Abel. Melihat Abel pergi lagi, Reno hanya terduduk menghela nafas. Ia tak ingin mengejarnya lagi, karena sudah cukup capek untuk mengejar Abel sampai kelas yang di lantai tiga.
“Abel!” Teriak Diana sambil berlari kecil mengejar Abel yang sudah berjalan menuju gerbang sekolah. Abel hanya diam dan berbalik.
“Dari tadi pagi gue cariin loe, eh malah udah pulang gini ketemunya.” Abel masih diam, “Pulang bareng yuk!” Ajak Diana kemudian.
Abel menggeleng, “Nggak.” Ucapnya cuek. Lalu kembali berjalan meninggalkan Diana.
“Abel!” Teriak Diana. Ia kembali mengejar Abel. “Loe tu kenapa sih? Berubah banget! Gue tahu dulu loe nggak kayak gini, sekarang kenapa loe kayak mayat hidup? Bisik Diana Tegas.
Abel melirik sinis Diana, “Dulu mungkin loe emang tahu gue, tapi sekarang loe nggak tahu walaupun loe kenal gue?” Balas Abel dingin dan cukup untuk didengar banyak orang.
Diana melirik disekitarnya, suara Abel membuat yang lain memperhatikan mereka. Diana menghela nafas, padahal tadi dia ingin berteriak juga tapi karena nggak mau membuat Abel marah dan malu terpaksa ia berbisik. Tapi ini malah Abel yang membuatnya malu dengan suara yang lantang seperti itu. Ia hanya bisa terdiam, teman kecil yang dulu sangat akrab sekarang berubah seperti tidak mengenalnya.
Akhirnya Diana pergi meninggalkannya tanpa berkata apa-apa lagi. Kata-kata Abel tadi cukup menyakitkan untuknya. Tapi didalm hati Diana tidak akan menyerah untuk mencari tahu perubahan Abel.
***


Pagi ini terlihat heboh. Sepanjang Abel berjalan menuju kekelas hampir semua murid kasak-kusuk entah sedang membicarakan apa. Sesampainya dikelas ia melihat hal yang serupa, banyak anak perempuan yang menangis tersedu-sedu. Abel merasa aneh, tapi ia hanya diam dan duduk ditempatnya. Ia membuka buku Biologinya, karena jam pertama ada ulangan Biologi.
“Ocha!” Teriak Tika sambil menahan tangisnya.
Abel melirik Tika yang tak jauh disampingnya, ia juga melirik disebelah Tika, bukan Ocha yang teman sebangkunya melainkan Sara yang tampak berusaha menenangkan Tika dari tangisnya. Abel kembali mengarahkan pandangannya keseluruh kelas mencari Ocha, ia bingung kenapa Tika menangis menyebut nama Ocha. Saat pertama masuk sebagai murid baru, Abel memang pernah melihat Ocha dan Tika bertengkar sampai membuat Tika menangis. Itu sudah dua kali terjadi. Tapi ia heran, separah apa pertengkaran mereka hampir satu kelas dibuat menangis. Abel tidak melihat Ocha dan ia pun kembali membaca buku pelajarannya. Ia tak ingin ambil pusing dengan masalah mereka.
“Bel,” Panggil Lila pelan yang sudah duduk disebelahnya. Abel hanya diam, ia tetap menatap buku didepannya. Ia merasa aneh, tumben Lila datang menghampirinya.

Bel, ngapain loe baca-baca Biologi, kita tuh nggak akan ulangan!” Ucap Reno yang sudah berdiri didepannya sambil menahan isakan tangisnya.
Abel melirik Reno risih, lalu ia menutup bukunya dan menatap Lila. Sepertinya ia memang harus tahu sesuatu. Suasana sekolah, kelas dan ucapan Reno membuatnya bingung.
            “Ada apa?” Tanya Abel pelan pada Lila.
“Ocha meninggal, Bel.” Ucap Lila serak menahan sedihnya.

Bersambung :p

0 komentar:

Poskan Komentar