Minggu, 02 Oktober 2011

Ku Menuggu

"Putri!"
Itu suara yang Ia kenal, dengan perasaan senang dan menahan gejolak di hati, ia berbalik.
 Huufft... Sejelek dan seaneh apapun, kalau sudah suka tetap saja terlihat sempurna sekali, selama itu diterima secara logika. Itu menurut Putri dan sebagian orang saja, tapi belum tentu dengan sebagiannya lagi.
"Ada apa, Tra?" Tanya Putri sedatar mungkin, mencoba untuk biasa saja.
"Beli perlengkapannya besok sore aja sepulang sekolah, gak pa-pa kan? Aku ada acara dadakan hari ini."
Putri tersenyum manis (bukan di buat-buat lho) "Ya udah, gampang kok! Besok bisa." Jawab Bendahara kelas itu seperti biasa (tetap berusaha menjadi dirinya sendiri walaupun didepan orang yang sedang Ia sukai ini).
"Gak ada masalahkan?" Tanya Putra, yang menjabat sebagai ketua kelasnya melangkah mendekati Putri.
          Putri tersentak, dan ketika Putri akan menjawab Ia melihat seseorang berjalan kearah mereka, yang membuat Ia mundur selangkah sambil tertawa garing dan tentu membuat jawabannya beda dengan yang diniatkan sebelumnya.
            "Nggak masalah ketua kelas!" Ucapnya terseyum kecut.
"Haii,," Suara lembut itu menyapa diantara mereka, yang jelas ditujukan untuk Putra.
Itu Gita, pacarnya Putra yang cantik. Ia melirik Putri sedikit sinis untuk sedetik dan kembali menatap Pacarnya dengan manja.
"Jadikan, hon?" Tanyanya lembut.
"Jadi."
Merekapun berlenggang pergi, dengan Putra yang merangkul mesra Gita. Putri hanya terdiam melihat mereka pergi, tanpa pamit, tanpa apa-apa (yang biasa disebut basa-basi) sama sekali tak dianggap. Seperti tidak ada. Sayup-sayup Ia mendengar suara Gita yang menanyakan dirinya. Siapa dia? Kenapa sok cantik begitu? Dan mereka tertawa. Apa yang dijawab Putra sehingga mereka tertawa begitu, nggak ada yang lucu dengan dirinya. Lagian siapa yang sok cantik sih?! Huhh!
"Dear Botgun. Tadi ngobrol lagi sama Putra, ngomongin  soal perlengkapan untuk kelas sih. Soalnya kan bentar lagi ulang tahun sekolah, jadi ada lomba hias kelas terindah gitu Botgun, biasalah acara setiap tahun dan moga aja menang. Doain ya! (^.^)
Oh iya, sebenarnya aku tuh mau ceritain tentang Putra, bukan kelas. Kayaknya dia ma pacarnya ngetawain aku deh, ah nyeblin banget sih! Aku kan suka sama dia, diketawain gitu ngerasa harga diri aku jatuh-"
"Nulis diary kok bersuara sih, kayak anak SD belajar baca."
Itu Tami si sekretaris kelas yang kebetulan tetangga sebelah. Ia sudah berdiri didepan pintu kamar Putri lengkap dengan piyama dibadannya.
"Tidur sini ya?" Tanya Putri tidak menanggapi ucapannya tadi.
Tami mengagguk sambil berjalan kearah Putri, dan pura-pura mengintip buku diarynya.
"Ah, nanti aku tidur juga kamu baca." Ucap Putri sambil menutup bukunya.
"Belum aku baca juga udah tahu kok, kamu kan nulisnya berkicau. Apalagi ni botak gundul, ih aneh-aneh aja sih kamu buku diary kok dipanggil botgun cuma karena gambar covernya orang botak."
"Gak pa-pa dong, namanya juga kreatifitas." Jawab Putri ngasal
"Kreatifitas apaan?!" Tanya Tami tidak terima jawaban Putri yang menurutnya kurang berbobot dan meyakinkan.
"Kreatifitas kasih nama lah,"
"Ih, ngaco kamu! Kreatifitas darimananya? Itu sih namanya buntu, kehabisan ide."
"Terserah deh." Ucap Putri pasrah menyudahi perdebatan tentang si Botgunnya itu.        "Kenapa nggak bilang suka aja?" Tanya Tami heran, ia mengambil posisi siap tidur disamping Putri.
            Putri menghela nafas sambil melihat kearah pintu kamarnya yang masih terbuka "Ih, tutup pintu kamar dulu baru tidur, tanggung jawab dong! Kan kamu yang buka tadi." Protes Putri yang tidak terima melihat Tami siap pergi ke alam mimpi dengan pintu kamar yang masih terbuka.
         "Ah, aku udah PW nih. Kamu kan belum ketoilet, sekalian aja napa sih." Kata Tami yang tahu kebiasaan Putri ketoilet sebelum tidur untuk menyirami anggrek dari neneknya. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan malam sebelum tidur.
Dengan kesal Putri pun turun dari ranjangnya menutup pintu kamar, lalu berjalan ketoilet sambil bergumam kesal pada Tami. Tami yang mendengar hanya tersenyum geli.
***

"Tam, kadang aku ngerasa kalau aku nih jodoh sama Putra." Bisik Putri ditelinga Tami.
            Dahi Tami mengerut dan melirik Putri aneh, "Kamu tahu darimana?"
          "Nama kita aja cocok, serasi gitu. Terus dari kelas satu sampe sekarang aku selalu sekelas dan jabatan aku sama dia gak pernah diganti, dia selalu kepilih jadi ketua kelas dan aku bendaharanya. Iya kan? Ketua kelas sama bendahara, pasangan banget." Kata Putri masih berbisik.
           "Eh, dimana-mana pasangan ketua kelas ya wakil ketua kelas, sejak kapan dengan bendahara? Jauh tahu, sekretaris aja belum termasuk."
            "Jangan bawa-bawa jabatan kamu dong!" Protes Putri.
        "Siapa yang bawa-bawa jabatan, Setahuku emang begitu susunannya." Jawab Tami sambil melirik kebelakang Putri, "Kamu kayak gitu nggak kemarin?" Tanya Tami yang melihat Putra berjalan mesra dengan pacarnya.
          Putri berbalik mengikuti arah pandangan Tami. Tidak terlihat seperti mengubar kemesraan, tapi tetap saja terlihat mesra. Putri tak ingin rasa cemburunya menjadi-jadi, dengan cepat Putri kembali menatap Tami, tidak benar-benar menatapnya.
            "Hei! Ngelamun, cemburu..." Goda Tami sambil mengipas-ngipaskan tangannya didepan wajah Putri. Putri menatap Tami sesaat, lalu mencibir dan pergi berlalu dari hadapan Tami.

***


            Mau sampai kapan sih kamu nunggu dia?! Kamu bilang aja kalau suka ma dia atau nggak tunjukin ke dia kalau rasa suka kamu. Jangan jadi perawan tua dong sai, aku nggak tega." Kata Tami serius.

          Mereka sudah memasuki akhir tahun pelajaran dan seminggu lagi hasil kelulusan di umumkan, tapi kisah cinta Putri hanya begitu-begitu saja, tidak ada perubahan. Putri sudah mendaftar kuliah di Canberra University, Australia. Itu memang sudah keinginannya sejak lama.

           "Aku rasa aku udah nunjukin kalau aku suka selama ini. Aku ikutin maunya dia, aku perhatian sama dia, aku selalu ngejaga hubungan baik dengan dia dan hubungan dia dengan pacarnya. Aku akan tetap nunggu aja, Tam."
           "Dari dulu selalu bilangnya nunggu, saking nunggunya dia udah dua kali pacaran dan itu bukan sama kamu. Kalau kamu udah tunjukin berarti dia tahu, pasti ada perubahan. Setidaknya dia juga perhatian kalau dia suka kamu dan menajauh kalau emang enggak. Rata-rata kan begitu, tapi ini enggak, gini-gini aja. Apa kamu nggak kecewa kalau ternyata dia suka kamu, gimana coba?" Tanya Tami serius.
"Kalau dia memang suka, pasti dia bilang sama aku. Aku nggak mau maksain Tam, aku yakin suatu saat hari itu pasti datang, jadi aku tetap nunggu."
         "Ampun deh! Jaman sekarang dah berubah, perempuan udah bisa seperti laki-laki. Kenapa kamu nggak bilang aja sih, Put!?"
           "Aku? Nggak ah! Aku nggak mau ikutin jaman, Aku mau tetap jadi perempuan jaman dulu, yang lemah lembut, sesuai kodrat untuk perempuan lah pokoknya."
             "Nyerah deh!" Ucap Tami pasrah
             "Ya udah lah, temanin aku nge-pack yuk! lusa aku berangkat."
            Tami terbelalak kaget, nggak percaya kenapa seperti mendadak begini.
             "Pengumumannya kan masih seminggu lagi, Put."
            "Aku kan mesti tahu daerah sana dulu, seperti asrama Aku, universitasnya, mall, tempat yang menarik, para lelaki disana-"
            "Ah ngaco lu!" Potong Tami kesal.
          Putri tertawa, "Ya, Aku mesti urus segala sesuatu disana yang pasti berurusan dengan sekolah Aku dong."
             "Ya kenapa mesti besok, cepat banget."
             "Siapa bilang, Aku udah berencana lama kok." Sela Putri
            "Bukan itu maksudnya," Ucap Tami pelan. "Ya udah, kekantin aja yuk, sekalian perpisahan ma kantin sekolah." Ucap Tami kemudian, Ia melihat Putra yang sudah duluan masuk dan sengaja tidak memberi tahu Putri.
            Begitu mereka duduk, Tami langsung memesan minuman dengan suara yang sengaja pula Ia besarkan agar orang lain mendengar, terutama Ia juga berharap Putra mendengarnya.
           "Uni, jus jeruknya dua ya! Buat perpisahan dengan Putri, dia mau lanjut sekolah jauuuhh banget di Australia sana."
         "Iya Putri?" Tanya Uni kantin dengan logat daerahnya. Putri mengangguk seraya tersenyum tipis menanggapinya.
          "Iya Putri?" Tanya Uni kantin dengan logat daerahnya. Putri mengangguk seraya tersenyum tipis menanggapinya.
              "Putri nggak kesini lagi dong?" Tanya Uni kantin polos.
           "Besok udah berangkat lho uni." Potong Tami nggak sabar, Ia sudah memastikan Putra mendengarkan percakapan mereka. Putri emang nggak sadar, karena Putra berada di beberapa meja kosong dibelakangnya. Ia ingin Putra tahu kalau selama ini Putri menyukainya.
            "Yah, lama lagi ketemu Putri tu? tunggu libur panjang ya?" Tanya Uni kantin sambil menyiapkan jus pesanan mereka.
             "Mungkin malah nggak balik uni!" Celutuk Tami.
            Putri memandang Tami heran, setiap mulutnya ingin bergerak menjawab, selalu dipotong olehnya. 



0 komentar:

Poskan Komentar